Saturday, September 15, 2018

Nasi Kentjana, Resto Nasi Tradisional di Jakarta



Barangkali ada yang belum familiar dengan nama Nasi Kentjana. Restoran ini memang relatif masih baru, sekitar awal 2017 berdirinya. Tempatnya pun tidak terlalu besar, terselip di antara banyak tempat makan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Untuk menemukan resto ini, kami sekeluarga menelusuri sepanjang jalan Wolter Monginsidi sambil pasang mata lebar – lebar.

Sesampainya di restoran ini, kesan pertama yang saya dapat adalah, bila terlihat dari luar kelihatan kecil tapi unik karena ada gerobak angkringan yang menjual nasi kucing dan sebagainya. Kesan pertama berubah setelah masuk ke dalamnya. Restoran yang punya semboyan Makan Pakai Tangan ini ternyata agak luas juga. Dekorasinya ada unsur tradisional dipadu dengan unsur kekinian, membuat resto ini terlihat cerah.

 Untuk menunya sendiri ada menu paket nasi untuk sendiri atau paket bancakan alias makan rame – rame. Ada juga menu nasi tumpeng dengan berbagai ukuran. Bila kita perhatikan daftar menunya, bila diujung tulisan ada gambar bom, artinya itu pedas. Bagi penyuka pedas silahkan pilih yang ada gambar bomnya.Menu paket nasinya ada yang tradisional seperti Nasi Bogana, Nasi Langgi, Nasi Jamblang dan Nasi Singaraja. Ada juga menu – menu lain seperti nasi bakar dengan berbagai macam toping, nasi kuning, nasi ayam geprek dan sebagainya.

Selain itu ada juga menu camilan seperti tahu isi, tahu dan tempe bacem, tempe mendoan dan aneka bakwan seperti bakwan jagung, bakwan rawit dan bakwan sayur. Khusus bakwan rawit, rasanya pedas sekali karena ada campuran cabe rawitnya. Ada juga camilan ala angkringan seperti kepala ayam, ceker ayam, sate ati ampela, sate telur puyuh, sate jamur, sate bakso dan sebagainya. Sambil menunggu menu pesanan terhidang di meja, kita bisa menikmati berbagai camilan ini. Atau camilan – camilan bisa ini juga dijadikan lauk tambahan di menu nasi pesanan kita.

Untuk minumannya seperti minuman pada umumnya, ada teh tawar, teh manis, minuman soda, aneka jus dan sebagainya. Ada juga kopi walaupun tidak seenak di kedai kopi. Namanya juga resto Nasi Kentjana, tentunya yang istimewa adalah menu – menu nasinya. Kami akui memang menu nasinya enak. Dengan harga mulai dari Rp. 20.000an kita sudah bisa menikmati menu nasi yang enak di sini.

Nasi Kuning Kentjana
Saya sendiri memesan Nasi Kuning Kentjana, sesuai dengan nama restorannya. Isinya terdiri dari
nasi kuning, aya kari suwir,kentang balado, tempe goring, kacang teri dan tumis wortel kacang panjang. Sedangkan istri saya, karena dia penggemar pedas, dipilihlah Nasi Ayam Sambal Matah. Isinya nasi gurih, ayam suwir sambal matah, kacang teri, kari kacang panjang, tempe goreng dan telur goreng. Sedangkan anggota keluarga yang lain memilih menu nasi kesukaan masing – masing yang semuanya enak pastinya. Keluarga kami memang tidak memesan menu yang bancakan walaupun datang rame – rame, karena ingin memilih menu kesukaan masing – masing.

Bagi yang ingin merasakan nuansa tradisional namun kekinian, rasanya memang pas untuk datang ke restoran ini. Restoran ini bisa jadi salah satu destinasi untuk berwisata kuliner di Jakarta dengan berbagai menu nasi tradisional yang menjadi andalan restoran ini. Restoran ini juga bisa dijadikan tempat kumpul – kumpul seperti arisan, ulang tahun atau reuni.  Kalau acara kumpul – kumpul seperti ini, nasi bancakan cocok deh, karena bisa makan sekaligus rame – rame.

Saturday, August 18, 2018

Jambo Kupi, Kedai Kopi Aceh di Jakarta Selatan



Kopi Indonesia telah dikenal sebagai kopi terbaik di dunia, salah satunya adalah kopi Aceh. Kopi yang rasa dan aromanya sangat khas ini bisa dinikmati di Jambo Kupi, sebuah kedai kopi yang mengusung tema Aceh. Memang banyak rumah makan yang mengusung tema Aceh. Tapi untuk kedai kopi, rasanya baru Jambo Kupi yang mengusung tema Aceh.

Kedai kopi yang berlokasi di bilangan Pasar Minggu Jakarta Selatan ini menyediakan Kopi Aceh dan makanan khas Aceh sebagai teman minu kopinya. Harga kopinya juga tidak terlalu mahal, berkisar Rp. 15.000,- sampai Rp. 17.000,-, tergantung menu yang dipesan. Begitu juga dengan makanannya.

Kedai kopi ini terletak tepat dipinggir jalan. Tidak ada tempat parkir. Jadi bagi yang bawa kendaraan, baik itu mobil maupun motor terpaksalah parkir di pinggir jalan. Kedai kopi ini selalu ramai, jadi yang parkirpun bisa berjejer di sepanjang jalan. Akibatnya sepanjang bahu jalan penuh dengan kendaraan pelanggan Jambo Kupi.

Kopi Tarik
 Lahan yang seharusnya jadi teras di kedai kopi ini dijadikan tempat untuk dapur, kasir dan ditata meja dan kursi. Jadi tidak heran kedai kopi ini tidak ada tempat parkirnya. Tapi disinilah letak uniknya kedai kopi ini. Kita bisa menikmati kopi sambil melihat lalu lalangnya kendaraan di jalan raya.

Kalau ingin terhindar dari bising kendaraan dan kemungkinan debu jalan serta asap rokok dari pelanggan yang lain, ada ruangan ber-AC dibagian belakangnya. Jadi bagi yang mau ketengangan bisa ngopi disitu. Di lantai atas juga tersedia tempat ngopi. Kita bisa pilih tempat yang enak menurut kita.

Jambo Kupi menganut sistim dapur terbuka, sehingga kita bisa melihat proses pemasakannya secara langsung. Tempat barista mengolah kopi dan dapur tempat mengolah makanan dibuat terpisah. Yang menarik perhatian saya adalah alat – alat pembuat kopinya adalah alat pembuat kopi khas Aceh. Aksi para barista membuat menu kopi menjadi atraksi hiburan tersendiri dan menambah keunikan dari Jambo Kupi.

Di tempat ini saya memesan Kopi Tarik Aceh yang terkenal itu. Rasanya sungguh nikmat, rasa susu yang berpadu dengan kopi sangat pas. Sedangkan istri saya memesan kopi Ule Kareng yang merupakan kopi hitam, karena istri saya memang penyuka kopi hitam. Berbeda dengan saya, menu kopi apapun oke – oke saja. Rasa kopi hitamnya tajam dank has ketika saya mencobanya.
 
Kopi Ule Kareng
Untuk makanannya sudah pasti menu – menu khas Aceh yang banyak sekali rempah – rempahnya. Saya pesan Nasi Goreng Aceh yang menurut saya enak, tapi menurut istri saya agak aneh rasanya..he..he..he.. Dia lebih menyukai mie Aceh baik itu mie goring maupun mie kuahnya. Bumbu untuk nasi maupun mie memang sama. Karena itu barangkali bagi yang menggemari mie aceh seperti istri saya, terasa agak aneh ketika bumbunya digunakan untuk nasi goreng.

Bagi penyuka masakan khas Aceh dan kopi Aceh yang berada di Jakarta, mampir saja di kedai kopi Jambo Kupi ini. Kopinya enak, masakannyapun nikmat. Harganya juga relatif terjangkau. Lokasinya berada diantara stasiun Tanjung Barat dan stasiun Pasar Minggu, terletak  dipinggir jalan ke arah Pasar Minggu. Jadi bila jalannya ke arah kota Depok harus putar balik. Kedai kopi Jambo Kupi ini bisa jadi pilihan destinasi wisata kuliner bagi penggemar kopi Aceh dan masakan khas Aceh.

Friday, August 10, 2018

Mencicipi Kue Pancong Rasa Kue Cubit di Warkop Auri Parahyangan di Jakarta Timur



Sepintas, Warkop Auri Parahyangan tidak berbeda dengan warung kopi di pinggir jalan pada umumnya. Warung kopi ini menyajikan kopi kemasan sachet dan mie instant serta berbagai macam cemilan rakyat sebagai teman minum kopi.


Setelah diamati lebih teliti, ternyata ada yang berbeda dengan warung kopi ini. Warung kopi ini lebih besar dan di dalamnya cukup luas dan lapang. Dilayani oleh pegawai yang berjumlah 5 – 6 orang, dan semuanya memakai seragam. Baru kali ini saya jumpai ada warkop dipinggir jalan yang pegawainya mengenakan seragam.


Interior bagian depannya didisain seperti warung kopi pada umumnya. Yaitu meja bar-nya berbentuk siku mengelilingi para pegawai warkop yang dengan sigap menyiapkan pesanan pelanggan. Dilengkapi dengan etalase berisi berbagai macam gorengan di bagian atas, dan bangku panjang di bagian depannya.



Di bagian dalamnya ditata beberapa meja dan kursi, sehingga memberikan nuansa yang berbeda dibanding warung kopi lainnya. Di bagian samping meja dan kursi ini terdapat juga wastafel dapur, tempat para pegawai mencuci perabotan makan dan minum sehabis digunakan para pelanggan.


Menunya sendiri seperti yang sudah disinggung tadi, minumannya adalah minuman kemasan sachet yang biasa ada di warung, yang sebenarnya bisa dibuat sendiri di rumah. Karena ini warung kopi, ya kopi yang dominan. Ada juga mie instan dengan varian rasa dan topping yang sebenarnya kita juga bisa buat sendiri di rumah. Tapi kenapa rasanya sepertinya lebih enak di warkop daripada di rumah? Bingung kan..ha..ha..ha…



Kue Pancong rasa kue cubit dengan topping coklat meyses

Ada juga gorengan yang rasanya enak. Tapi ada yang special di warung kopi ini sebagai temannya minum kopi, kue pancong dan pisang bakar. Tadinya saya dan istri saya pikir, kue pancongnya adalah yang seperti abang – abang yang jualan keliling. Ternyata yang ini ukurannya cukup besar dan rasanya seperti kue cubit. Kita bisa pilih mau yang polos atau dengan berbagai macam topping. Satu porsi sudah bikin kenyang.


Pisang bakarnya juga enak banget, tidak kalah dengan yang ada di restoran. Toppingnya juga bervariasi. Harganya juga tidak terlalu mahal. Dengan harga Rp. 6000,- kita sudah dapat pisang bakar yang nikmat. Saya pesan yang topping-nya keju dilengkapi dengan kental manis. Saya memang suka pisang bakar dengan keju, buat saya ini lebih nikmat disbanding topping lainnya.


Pisang Bakar Keju Susu
 Harga kue pancongnya sendiri Rp. 8000,-. Dengan harga segitu, kita sudah dapat kue pancong dengan ukuran besar dan enak. Istri saya pesan yang topping keju setengah matang, seperti halnya kue cubit. Sedangkan saya pesan yang topping coklat, kuenya saya minta yang matang, karena saya memang lebih suka yang matang.


Selain penataan interior dan luasnya tempat yang membedakannya dengan warkop lainnya, sepertinya menu kue pancong dan pisang bakar ini juga jadi pembeda antara Warkop Auri Parahyangan dengan warkop lainnya. Saya sarankan untuk mencoba ke dua menu ini bila mampir ke warkop ini.


Letak warung kopi ini cukup strategis. Lokasinya di pertigaan Auri antara jalan Raya Bekasi dan jalan Raya Pulo Gebang. Dinamakan Auri karena dulu di sana ada markas Angkatan Udara Republik Indodesia (AURI). Sekarang disana berdiri kompleks Pusat perbelanjaan, ada mall Grand Cakung dan Giant Hypermarket beserta ruko. Warung kopi ini layak dicoba untuk mampir ke sana.  

Friday, July 27, 2018

Mengenal Hewan Primata di Pusat Primata Schmutzer




Pusat Primata Schmutzer adalah pusat primata terbesar di dunia, terletak di dalam Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta atau yang lebih kita kenal dengan Kebun Binatang Ragunan. Saya pribadi baru pertama kalinya mengunjungi pusat primata ini, padahal sudah lama dibangun. Sedangkan istri saya mengunjungi tempat ini kali ke tiga. Harga tiket masuk ke Kebun Binatang Ragunan Rp. 4000,-/ orang, sedangkan tiket masuk ke Pusat Primata Schmutzer Rp. 6.000,-/ orang. Cukup murah, karena itu tempat wisata ini menjadi favorit warga Jakarta.

Area pusat primata ini cukup luas, sebelum berkunjung ke sini saya sarankan siapkan stamina dulu ya. Tapi tenang saja, ada banyak bangku yang disediakan untuk istirahat sejenak setelah berkeliling. Bila bawa botol air minum dalam kemasan dan makanan, harus dititipkan di tempat penitipan. Air minum di dalam botol minum macam Tupperware, masih boleh kita bawa. Di dalam banyak disediakan kran air yang airnya bisa langsung diminum, jadi kalau haus bisa minum dari kran air itu.

Di dalam pusat primata ini, kita akan banyak menjumpai berbagai macam jenis primata dari yang besar sampai yang kecil. Mereka di tempatkan di dalam kandang yang cukup besar. Untuk primata yang berukuran besar seperti gorilla, orangutan dan simpanse, mereka cukup di tempatkan di area terbuka. Pengunjung hanya dibatasi pagar dan kanal.

Kita bisa melihat mereka dari sisi kandang, bisa juga melihat dari atas karena ada jembatan yang dibangun melintasi kandang. Seekor gorilla jantan yang bernama Kumbo menarik perhatian saya ketika melihat dari jembatan. Ukuran tubuh gorilla ini sangat besar dan sedang leyeh – leyeh ketika saya mencoba mengambil gambarnya. Menurut informasi yang ada di pusat primata ini, si Kumbo adalah jenis gorilla dataran rendah, dan rupanya pemimpin kawanan di tempat ini.

Si Kumbo
Selain dari sisi kandang yang dibatasi kanal dan jembatan, kita juga bisa melihat dari sisi lain. Yaitu dari goa buatan yang didalamnya didisain menyerupai diorama. Sambil menelusuri lorong goa, kita bisa menelusuri lorong goa sambil mengamati tingkah laku para primata dari balik kaca yang dipasang dibeberapa titik. Dari balik kaca ini, kami melihat beberapa ekor orangutan yang sedang asyik bermain.

Sayangnya ketika kami datang ke tempat ini. Tidak banyak para monyet atau kera yang terlihat. Mungkin karena kami tiba di tempat ini sudah siang, sekitar waktu dzuhur, mereka sepertinya sedang beristirahat. Hanya beberapa saja yang aktif. Di kandang – kandang primata, kami jumpai ada yang narsis ketika pengunjung mengambil gambar mereka. Ada juga kami jumpai seekor bekantan yang kelihatannya sedang sedih. Ada juga monyet – monyet yang saling mencari kutu. Ada juga terlihat sekeluarga sedang tidur siang.

Selain melihat tingkah polah primata yang menggemaskan ini, di tiap kandang juga terpampang informasi mengenai primata tersebut, seperti nama latinnya, habitatnya, masa berkembang biaknya, dan sebagainya. Pusat primata ini juga dilengkapi teater kecil dan museum sehingga semakin memberikan banyak informasi mengenai primata yang ada di objek wisata ini. Bagi yang suka ber foto ria, di sini ada taman patung yang isinya patung – patung primata yang ada di Pusat Primata Schmutzer. Ada banyak spot foto menarik di sana.

Ketika merasa lelah mengelilingi salah satu pusat primata terluas di dunia ini, saya dan istri saya duduk sejenak melepas lelah di salah satu bangku taman yang banyak bertebaran di tempat ini. Pohon – pohon yang rindang dan semilirnya angin menambah kenyamanan ketika berkunjung ke objek wisata ini.

Bagi yang ingin mengenal lebih dekat mengenai primata, atau ingin mengenalkan pada anak berbagai jenis primata, rasanya ini tempat yang tepat. Pusat Primata Schmutzer ini selain sebagai tempat rekreasi juga bisa sebagai sarana edukasi, terutama bagi anak – anak.